Izzuddin Al-Qossam, Mujahid Yang Merakyat

Dilahirkan di negeri Jabalah, Suriah pada tahun 1882 M/ 1300 H dengan nama lengkap Muhammad Izzuddin bin Abdul Qodir Mushthofa Al Qosam. Ia tumbuh dan berkembang ditengah keluarga yang taat dan berpegang teguh dengan ajaran Islam. Ayahnya yang menekuni ajaran tasawuf dikenal sebagai pendidik yang khusus menyediakan salah satu pojok rumahnya sebagai tempat belajar agama bagi anak-anak tetangga sekitarnya.

Tanpa disadari, lingkungan belajar ini membantu membentuk kepribadian sang Izzuddin kecil karena ia menyaksikan langsung proses tarbiyah yang dilakukan ayahnya terhadap murid-muridnya yang datang ke rumah. Keakraban hidup dengan orang kecil yang diwarisi dari orang tuanya terus dipupuk sampai hari tuanya. Ia tidak segan-segan membantu orang kecil walau sekedar berbincang-bincang untuk meringankan beban hidup orang lain. Begitulah prinsip yang dipegangnya.

Ketika berumur 14 tahun (tahun 1896), pemuda Izzuddin dikirim orangtuanya belajar ke Jami’ Al Azhar, Mesir yang kala itu masih berbentuk talaqi’dengan masyayikhdi dalam mesjid. Sekitar 10 tahun berada di bumi kinanah, Izzuddin banyak tertarik dengan ide-ide pembaharuan yang dilontarkan oleh Jamaluddin Al Afghani, Muhammad ‘Abduh dan Abdurrahman Al Kawakibi. Himbauan mereka antara lain: agar kembali berpegang teguh dengan Al Qur’an dan Sunah, kritikan terhadap kezoliman politik penguasa, kesenjangan sosial, keterbelakangan ilmu pengetahuan, kemerosotan akhlak serta cengkraman barat terhadap kaum muslimin.

Ia juga tertarik dan bergabung dengan madrasah jihad yang didirikan oleh Muhammad Rasyid Ridho. Di madrasah ini Izzuddin dan rekan-rekannya memantau dan menjalin hubungan dengan pergerakan jihad yang ada di negara Islam lainnya. Demikianlah proses tarbiyah yang dijalani pemuda Izzuddin selama di Mesir yang memberikan pengaruh bagi perjuangannya selanjutnya.

Andilnya dalam da’wah
Aktivitasnya selama di Mesir menempanya menjadi sosok yang tidak bisa berpangku tangan menyaksikan kerusakan di tengah-tengah masyarakat. Kepekaan terhadap lingkungan yang memang sudah mendarah daging dalam dirinya semakin tajam dengan tempaan yang cukup lama di Kairo, Mesir. Pada usia 24 tahun, Izzuddin kembali ke kampung halamannya di Jabalah, Suriah.

Setibanya di kampung halaman, ia langsung terjun ke medan da’wah. Ia sangat lihai berpidato. Kelihaiannya itu ia manfaatkan untuk menda’wahkan Islam kepada orang banyak. Sampai akhirnya menjadi khatib tetap di Masjid Raya Al-Manshur, Jabalah.

Keindahan gaya bahasa yang digunakannya sangat menyentuh hati para hadirin.i>Muhadharahnya disenangi dan ditunggu-tunggu oleh kaum muslimin. Kepiawaiannya memilih kata-kata bisa membangkitkan kesadaran hadirin untuk kembali berpegang teguh dengan ajaran agama Islam.

Ia selalu menekankan sifat tawadhu’, akhlak mulia, kecerdasan berinteraksi,istiqomah, pengendalian diri, meluaskan cara pandang, zuhud, sederhana, ikhlas serta siap berkorban tenaga,waktu dan istirahat demi Islam dalam setiap muhadharah yang disampaikannya. Hal-hal yang dida’wahkannya ini senantiasa diusahakannya agar bisa diterapkan dalam kesehariannya sehingga ia benar-benar menjadiqudwahdan dicintai masyarakatnya.

Satu hal yang tak pernah lepas dari kehidupannya adalah kepeduliannya terhadap orang miskin. Para petani diziarahinya sampai ke ladang-ladang tempat mereka bekerja. Para buruh tak lupa disapa dan diajaknya berbincang walaupun hanya sebentar. Ia tak segan-segan menemani mereka di meja makan atau membantu menyelesaikan pekerjaan mereka sekalipun hanya sesaat.

Menjalin ukhuwah dan gemar bermu’ayasah(berinteraksi di tengah-tengah masyarakat) benar-benar dihayati dan diterapkan dalam kehidupannya. Karena melalui jalan inilah seorang da’i mengerti dan memahami kebutuhan masyarakat yang sebenarnya. Inilah salah satu kunci keberhasilan Syaikh Izzuddin dalam da’wahnya mengenalkan Islam kepada masyarakat di sekitarnya yang patut diteladani.

Kesertaannya dalam jihad
Tarbiyah madrasah jihad Rasyid Ridho sewaktu di Mesir sangat berbekas dan mempengaruhi watak dan kepribadian Izzuddin dalam berjuang. Hal ini dibuktikannya ketika tentara Italia datang dan menjajah Lybia tahun 1911. Ia yang berada di Suriah tergugah untuk membantu muslimin disana.

Dengan gagah berani ia pimpin demonstrasi menentang Italia di Jabalah, Suriah. Ia menyerukan kaum muslimin agar membantu saudaranya di Lybia dengan harta maupun jiwa untuk berjihad ke sana. Dari himbauannya tersebut, terdaftarlah sekitar 250 mujahidin sedangkan yang lainnya ikut andil dengan sumbangan harta yang ada.

Berangkatlah pasukan mujahidin yang dipimpin langsung oleh Izzuddin menuju Mina’, Al Iskandrunah dan bermalam disana selama 40 hari menunggu kapal yang akan membawa mereka ke Lybia. Namun sayang, kaum nasionalis yang berkuasa berpihak kepada kepentingan Italia. Mereka menghalangi keberangkatan pasukan mujahidin bahkan memulangkannya ke Jabalah. Adapun dana yang terkumpulkan sebelumnya untuk membiayai keberangkatan ke Lybia digunakan untuk mendirikan madrasah di Jabalah guna membantu meningkatkan keilmuan masyarakat setempat.

Ketika penjajah Perancis mulai memasuki Suria pada tahun 1918 dan menduduki perkampungan nelayan, Izzudin yang berada di Jabalah tentu saja tidak tinggal diam. Ia menyerukan revolusi melawan Perancis dan mengajak masyarakat agar bergabung. Bahkan untuk mendanai perang jihad yang dikobarkannya, ia rela menjual rumah dan uang hasil penjualannya dibelikan senjata.

Kegigihannya melawan penjajah membuat Perancis gerah dengan sepak terjangnya. Ia dimasukkan dalam daftar orang yang di hukum mati karena menentang pemerintahan Perancis. Ketika cengkraman Perancis dirasakan semakin kuat, sebagian besar mujahidin keluar Suria menggalang kekuatan. Izzuddin bersama beberapa orang keluarga dan sahabatnya menyingkir ke Beirut, Libanon.

Dari sini mereka melanjutkan perjalanan ke Haifa, Palestina di penghujung tahun 1920. Jiwa da’wah yang tertanam sangat kuat dalam jiwanya membuat Izzuddin cepat dikenal dan disenangi masyarakat Islam Haifa. Bahkan ia diangkat menjadi khatib resmi mesjid Al Istiqlal Haifa.

Selanjutnya ia terpilih untuk pemimpin Pergerakan Pemuda Muslim Haifa. Ia berhasil membuka beberapa cabang dan langsung memantau perkembangan dan senantiasa memberikan tausiahserta pengarahan-pengarahan. Kebiasaan untuk berinteraksi langsung dengan masyarakat sekeliling di kampungnya diterapkan juga di Haifa.

Ia sangat menyadari bahwa keberhasilan da’wah sangat didukung oleh diterimanya da’i di tengah-tengah masyarakat.

Selama 15 tahun bermu’ayasahdengan masyarakat muslim Haifa, Izzuddin mempersiapkan muslimin untuk mengobarkan revolusi melawan penjajahan Inggris yang telah bercokol sekian lama di bumi Palestina. Ia meletakkan 3 sasaran yang akan di perjuangkan di Palestina:

1. Membebaskan Palestina dari penjajahan Inggris yang dicap sebagai musuh no. 1 umat Islam disebabkan janjinya kepada orang Yahudi untuk mendirikan Israel Raya di bumi Palestina dan memberikan izin masuknya puluhan ribu orang Yahudi ke Palestina.
2. Menghalangi cita-citaYahudi untuk mendirikan negara Israel di Palestina.
3. Mendirikan negara Islam Palestina untuk merapatkan dan menyatukan barisan Arab dan Muslimin.

Syiar yang dikumandangkan bersama mujahidin Haifa, Palestina adalah: “Ini adalah jihad, menang atau mati syahid”. Izzudin melancarkan pergerakan bawah tanah dan rahasia yang tak terendus oleh musuh dan hanya diketahui sahabat dan para mujahid yang membantunya. Namun akhirnya, aktifitas pergerakannya tercium juga oleh penjajahan Inggris dan Yahudi.

Sebelum musuh mengambil tindakan, ia mengambil ancang-ancang menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi dengan melatih para petani dan masyarakat untuk memegang senjata di dataran tinggi Junein. Namun sebelum revolusi sempat dikobarkan, Inggris dan Yahudi lebih dulu membuat makar dengan memperalat tentara Arab, Palestina. Ketika matahari baru membagi sinarnya ke bumi, pagi hari tepatnya tanggal 20 September 1935, ia dan para mujahid lainnya berhadapan langsung dengan musuh yang menyerang dari 3 penjuru sekaligus.

Sebenarnya, Izzuddin bersama para sahabatnya bisa saja meloloskan diri, namun pantang baginya melarikan diri dari medan pertempuran. Pada waktu itu pasukan mujahidin berada pada tempat yang tidak menguntungkan untuk mengadakan perlawanan. Saat itu pasukan mujahidin berada di dataran rendah sedangkan musuh berada di balik perbukitan.

Inggris yang licik berhasil memperalat badan keamanan Arab Palestina untuk melancarkan aksinya membungkam perlawanan Izzuddin dengan meletakkan mereka di 3 barisan pertama. Siasat licik ini dijalankan setelah sebelumnya Inggris menuduh Izzuddin dan lainnya adalah perampok yang selalu membajak pedagang yang sering melewati kawasan tersebut.

Sebelum perlawanan dimulai, Izzudin mengumumkan agar jangan melukai pasukan Arab karena mereka tidaklah tahu apa-apa. Lalu ia mengumandangkan syiar:”Hadzaa jihadun fi sabilillah wal wathon,wa man kaana hadza jihaduhu la yastaslim lighoirillah”dan menyerukan:”muutuu syuhada’….!”

Setelah melakukan perlawanan keras, akhirnya Izzuddin dan 4 orang sahabatnya menemui syahid. Mendung menyelimuti Haifa mengiringi kepergian sang mujahid sejati yang dikenal sangat peduli dengan rakyat kecil. Jasadnya dimakamkan di kampung “Syaikh”dekat Haifa.

Satu peninggalannya adalah buku yang berjudul:”An Naqdu wal Bayan”yang dikarangnya bersama syaikh Kamil Al Qosab untuk memerangi khurafat dan bid’ah yang banyak berkembang ditengah-tengah kaum muslimin. Keteladanan yang bisa ditiru dari perjuangan beliau adalah keikhlasan, pengorbanan dan senantiasa menebarkan kehangatan berinteraksi dengan orang-orang disekitarnya. Sifat-sifat ini sangat membantu kesuksesan dalam medan da’wah, jalan yang ditempuh oleh para Nabi utusan Allah. Selamat berjuang !!!

Rabbaniyyun

Oh…taman halaqoh nan wangi semerbak

Siraman tasbih serta do’a malaikat pembawa rahmat

Senantiasa hadir di majelis Dzikrullah,

Tadabbur,

Tafakkur,

Dzikrul maut,

Dzikrullah,

Bunga-bunga mahabbah

Putik-putik jihad

Tangkai-tangkai ukhuwwah

Getah-getah darah syuhada

Oh…sungguh kami teramat kecil

Oh…sungguh sesuatu Kau ciptakan tidak sia-sia

Subhanaka faqina ‘adza banner

Pandu kami dijalan-Mu, ya Allah

Dijalan shirotal mustaqim

Another Poem (Jalalludin Rumi)

Tuhan menggunakan api untuk mengajari kita teduhnya air,
menggunakan penyakit agar manusia menghargai kesehatan,
dan kematian diciptakan untuk menunjukkan pentingnya kehidupan.

Happy Birthday to Me

Tidak terasa dua puluh empat tahun sudah berlalu menjalani kehidupan di dunia ini. Sujud syukurku yang tak terhingga kupersembahkan kepada-Mu ya Rabb yang telah memberikan segala nikmat yang ada, mulai dari nikmat Iman, Islam, nikmat sehat wal afiat.

Tidak terasa dua puluh empat tahun berlalu, banyak kisah dan kenangan saat masa kecil hingga sampai aku besar. Terimakasih kupersembahkan kepada Bapak dan Ibu yang dengan gigih dan telaten membesarkanku, mengajarkanku tentang arti kehidupan, selalu sabar dalam menasehatiku yang bandel ini..:). Bapak , sudah lebih dari tiga puluh tahun yang lalu bekerja mencari nafkah untuk keluarga hingga saat ini telah pensiun. Banyak pelajaran tentang kehidupan yang aku petik dari beliau, bagaimana kegigihan beliau dari saat muda merantau ke Jakarta, mencoba mengadu nasib ke Jakarta yang konon merupakan “surga pekerjaan”. I proud to you Dad. Ibu yang sampai saat ini masih terus berjuang mencari nafkah dengan berjualan di rumah ini. Ibu yang sedari dini hari sudah bangun untuk berbelanja ke pasar demi “mengebulkan” dapur kami. Bu, I’m loving you for your lovingkindness, your endurance, your strength.

Tidak terasa dua puluh empat tahun berlalu, banyak kenangan yang terpatri di dalam hati ini dengan kedua saudaraku. My Brother and my little brother, I’ll never forgett all of you Bro. I proud to you Big Brother, you can be a sample of your success story for me and babeh (nick name for my little brother). Hope I can follow your success story, work or continue my study in oversease. Masih terngiang di memoryku, saat kecil dulu kita sering sekali berantem karena masalah sepele. Memang karena keegoisanku sendiri yang tidak suka jail dan egois..hehehe. And for my Little Brother, walaupun kamu bandel…but your still my little brother..hehehe. Belajar..belajar..belajar, jangan main terus dan kalau dinasehati tuh nurut…:).

Tidak terasa dua puluh empat tahun berlalu, banyak teman yang menghiasi kehidupanku ini. Mulai dari teman masa kecil, teman sekolah dahulu, teman kerja, teman main sekitar rumah. Teman sejati, tidak saja menemani saat senang tetapi ikut memberi support dan dukungan saat seorang temannya mengalami kesulitan. Teman sejati, selalu perduli terhadap temannya. Thanks for all of you my friends. I proud to be your friends.

Tidak terasa dua puluh empat tahun terlah berlalu, semoga aku menjadi lebih baik lagi dalam segala hal. Banyak cita-cita dan keinginan yang harus kukejar untuk meraihnya. Semangaatttt….

PS : Thanks for you that’s express birthday to me, I’ll never forget.

Wish u all the best

“Risalah ini aku persembahkan teruntuk setangkai mawar yang tengah bergoyang dalam pelukan angin, dan yang mungkin tak bisa aku petik.”

Dalam tarikh dua puluh tiga
Di bawah naungan bulan Agustus
Di balik selubung tahun dua ribu delapan.

Menjumpai yang telah lama tak bersua dalam suatu jumpa.

Aku adalah selembar risalah, yang ditulisi sebaris dua kata-kata hati dari ujung pena kalbu dengan tinta nurani. Aku tercipta dari rahim kesunyian, tumbuh dan berkembang dalam buaian dan asuhan kesepian dan kesendirian. Aku terlahir sebagai bukti dari pada sebuah penungguan, penungguan akan – ada yang menyebutnya sebagai – sebuah ketidakpastian.

Dan, aku – selembar risalah – terutus untuk sekedar mengingatkan sang masa, bahwa hari ini – hari dimana aku tercipta dan terlahir – telah pernah mendahuluiku akan sebuah kelahiran yang sehingga kini masih abadi. Sekedar memohon pada sang masa ‘tuk sudi dalam henti sejenak, memberi satu kata ucap dan tinggalkan sebongkah kado harapan yang terbungkus rapi do’a-do’a dan terikat pita semoga-semoga, yang terkirim dalam sepenggal kata, beralamat pada tuanku putri dalam istana, dari salah satu pemujanya yang tengah menikmati deritanya dalam jurang cinta, yang terbelenggu dalam pasung-pasung kesepian dan kesendirian, yang batinnya hancur oleh lecutan cemeti penantian. Dan kini, ia tengah mengerang dalam sakaratnya. Nyawanya telah teronggok antara kesetiaan dan ketidakpastian. Sekedar berharap mampu melihat sang tuanku putri dengan senyum saat kematian merangkulnya.

Aku – selembar risalah – tak mampu lagi ‘tuk memanjang lebar kata. Karena bagaimana mungkin seorang buta ‘kan dapat mengungkapkan isi batinnya dalam goresan-goresan lembut pena, sementara untuk menceritakannya ia pun tak mampu, karena sekaligus ia seorang yang bisu. Sehingga ia tak bisa membuat orang lain mendengar ataupun ia sendiri yang mendengar isi batinnya, karena pada saat yang sama ia adalah orang yang tuli. Ia tak mampu berbuat apa-apa. Satu-satunya yang ia bisa lakukan hanyalah menanti saat sebuah uluran rasa menyentuh sejuk kalbunya, karena akan mustahil sebuah uluran tangan akan menyentuhnya, sementara ia kini tak lagi berraga, hanya sebuah jiwa yang terlepas dari belenggu jasadnya.

Selamat ulang tahun kuucapkan, s’moga segenap harapan, impian, cita dan cinta akan engkau raih kelak di kemudian masa.

Taken from : http://kemudian.com/node/3369

Meraih Beasiswa Erasmus Mundus

Oleh : Fahmi Mubarok

Bagi masyarakat yang tinggal di kota besar di Indonesia, mungkin nama Erasmus Mundus Scholarship bukanlah lagi sebuah nama asing. Selama setahun kemarin, perwakilan European Union untuk Asia Tenggara, khususnya Indonesia telah aktif menyebarkan informasi tentang beasiswa Eraasmus Mundus melalui koran maupun seminar-seminar sekolah di luar negeri. Mungkin proses yang tidak ‘umum’ dan investasi awal yang ‘cukup’ besar
untuk melamar beasiswa ini lah yang menjadi kendala kenapa sampai saat
ini peminat dari Indonesia belum menunjukan peningkatan jumlah yang
signifikan. Padahal kalo dilihat dari Jumlah quota yang disediakan
khusus untuk mahasiswa dari Asia tenggara, khususnya indonesia, kita
masih sangat ketinggalan jauh dibanding India dan Cina yang mampu
mengirimkan hampir 100 orang pertahunnya.

Ada beberapa hal yang saya amati menjadi kendala bagi mahasiswa
Indonesia khususnya :
1. Beasiswa Erasmus Mundus bukan merupakan beasiswa terpusat, artinya
proses aplikasi tidak diurus oleh lembaga khusus seperti ADS atau STUNED
yang memiliki perwakilan di Jakarta.

2. Proses aplikasi harus langsung ke Konsorsium Universitas di Eropa
dimana beasiswa Erasmus Mundus ditawarkan.

3. Syarat dari proses apliaksi ke Universitas yang kadang cukup rumit
dan memakan energi.

4. Investasi di awal berupa pengiriman dokumen yang cukup mahal (dengan
DHL ato DHL)

Namun, kalo kita lihat keuntunganan dan kita coba kalkulasi kesempatan
dari beasiswa ini, maka saya yakin anda akan sangat terkejut dan merasa
bahwa kendala di atas tidaklah berarti.

1. TIDAK ada proses wawancara, artinya screening seluruhnya dilakukan
lewat dokumen yang anda kirimkan ke konsorsium Universitas dimana
Program Master Erasmus Mundus ini ditawarkan.

2. TIDAK diperlukan aplikasi double ke pemberi beasiswa (dalam hal ini
European Union) karena saat anda mengisi formulir aplikasi untuk
pendaftaran ke Universitas, anda tinggal mencontreng pilihan, ‘apakah
anda juga akan apply beasiswa erasmus mundus untuk program ini?’

3. Jika anda diterima di Universitas tersebut, maka KESEMPATAN anda
untuk mendapatkan beasiswa erasmus mundus untuk program tersebut,
sangatlah BESAR! Tinggal bersabar menunggu informasi dari koordinator
program Erasmus Mundus tempat anda mendaftar, karena universitas yang
akan mengajukan nama anda ke European Union untuk mendapatkan beasiswa,
jika European Union setuju, maka anda sudah dipastikan anda mendapat
beasiswa tersebut.

4. Ada quota untuk orang Indonesia sebagai bentuk pemerataan beasiswa
Erasmus Mundus, sepengatahuan penulis, untuk 1 program Erasmus Mundus,
minimal 1 orang Indonesia bisa diterima, untuk kasus tertentu ketika
kualifikasi si pelamar memuaskan, maka dari Indonesia sendiri bisa
langsung 2 orang atau lebih diterima untuk program yang sama.

5. Kesempatan untuk belajar di lebih dari 1 universitas dan lebih dari 1
negara eropa selama masa perkuliahan. Penerima beasiswa erasmus mundus
diwajibkan untuk mengambil beberapa mata kuliah tertentu atau tinggal
minimal 1 semester di universitas lain yang masuk dalam konsorsium
program erasmus mundus tersebut. Umumnya universitas ini berlokasi di
negara lain di Eropa. Artinya anda berkesempatan jalan-jalan sekaligus
menikmati kehidupan di berbagai negara eropa yang berbeda-beda
tergantung dari lokasi partner university.

Karena proses aplikasi lebih kearah paper based maka anda harus
mempersiapkan sebaik mungkin beberapa hal sebagai berikut :

– Form aplikasi diisi dengan selengkap-lengkapnya dan sebaik-baiknya
– Buatlah Motivation Letter atau Statement of Purpose
– Gunakan CV standard europa (bisa diperoleh di
http://europass.cedefop.europa.eu/europass/preview.action?locale_id=1)
– Lampirkan seluruh dokumen pendukung dengan lengkap.

Anda tidak harus memiliki International TOEFL atau IELTS pada saat
mendaftar, bisa disiasati pengiriman International TOEFL atau IELTS
dilakukan setelah anda diterima di Universitas dengan kondisi khusus
(conditional acceptance). INGAT : Anda diterima di universitas, maka
kesempatan anda dapat beasiswa Erasmus Mundus sangatlah besar.

Beberapa temen-teman mensiasati dengan mengambil test Intl. TOEFL atau
IELTS setelah ada kepastian dari koordinator kalo mereka dapat beasiswa
Erasmus Mundus. Namun sebisa mungkin lengkapi dokumen ini pada saat awal
anda mengirimkan aplikasi.

Proses aplikasi untuk Beasiswa Erasmus Mundus dibuka dari November
– Februari tahun depan, tergantung dari program yang ditawarkan. Bahasa
pengantar utama yang digunakan umumnya adalah bahasa Inggris, selama
anda menempuh pendidikan, nanti akan ada kursus bahasa negara lokal
dimana anda mesti mengambil program erasmus mundus tersebut untuk
memudahkan proses adaptasi.

Informasi detail tentang beasiswa erasmus mundus 2008 bisa dilihat di
http://ec.europa.eu/education/programmes/mundus/projects/index_en.html.

Seni Mencari Beasiswa

Oleh : Anggiet Ariefianto (Moderator millis beasiswa)

Memilih beasiswa bisa dilakukan dengan berbagai cara yang semuanya sah.
Idealnya mencari beasiswa itu mengacu kepada kebutuhan, keinginan, kemampuan
dan kemungkinan

1. Berdasarkan jurusan
Sebagian orang memilih beasiswa karena ingin mendalami bidang tertentu yang
super spesifik, misalnya nano biologi. Tidak masalah studinya di Negara
mana. Jika demikian, yang harus dilakukan adalah membuat data universitas
yang memiliki program yang diingini, kemudian lihat kemungkinannya, adakah
beasiswa yang bisa mendukung untuk ambil program itu di uni yang diinginkan
Harap diingat, meskipun namanya sama, belum tentu muatan materi ajarnya
sama. Ambil contoh misalnya gender studies. Ternyata banyak mainstreamnya
seperti women studies, gay studies, domestic violence, gender in development
dst. Pengamatan saya di Australia, banyak uni yang sama nama programnya tapi
dari mata kuliahnya akan terlihat lebih berfokus ke mana. Ini yang
seringkali tidak diantisipasi oleh pendaftar (termasuk saya sendiri). Survey
yang akurat dan komprihensif diperlukan, pastikan kita tahu betul apa muatan
jurusan yang dituju, karena biasanya pada saat wawancara kita juga harus
bisa menjelaskan kenapa kita mau ambil bidang itu di universitas itu

2. Berdasarkan Negara
Sebagian orang terobsesi ingin sekolah di negara tertentu. Maka yang harus
dilakukan adalah mencari beasiswa yang tersedia dari Negara yang
bersangkutan. Seringkali sebuah Negara memberikan lebih dari satu skema
beasiswa. Australia misalnya memberikan beasiswa melalui ADS, tetapi juga
ada IAFTP. Selain itu universitas Australia juga memiliki skema beasiswanya
sendiri. Alasan ini yang saya pakai waktu daftar ADS, karena kakak-kakak
saya semua dapat ADS, ya saya tidak mau kalah, jadi karena ingin sekolah di
Australia ya meriset bidang apa sich yang cocok untuk saya, di universitas
mana, dst.

3. Berdasarkan beasiswa yang ada
Banyak orang mendaftar beasiswa berdasarkan tawaran yang ada. Ini biasanya
terjadi kalau ada beasiswa besar yang memulai seleksi seperti ADS dan
Stuned. Dalam hal ini kemampuan untuk memperoleh informasi sangat berperan.
Banyak orang tertarik mendaftar karena memperoleh informasi beasiswa yang
ternyata cocok untuk mereka. Metode ini saya pakai untuk mendaftar tiga
beasiswa terakhir yang saya peroleh. Sering-sering saja mengikuti
email-email yang muncul di milis beasiswa. Kalau ada yang kira-kira menarik,
kita memenuhi syarat, iseng daftar. Harap disadari, biasanya informasi
dating mepet atau sudah terlambat, jadi biasakan sedia payung sebelum hujan.
Saya selalu punya ijasah IELTS/TOEFL yang masih valid dan referensi2 yang
bisa saya sisipkan. Pernah mendaftar beasiswa hanya butuh waktu 2 hari untuk
mengumpulkan dokumen, mengisi form dan mengirim. Triknya mudah saja, surat
rekomendasi tidak ada tanggalnya, pada bagian akhir mengatakan, mendukung
untuk studi lebih lanjut. Jadi semua tidak spesifik. Pada akhirnya hanya
perlu modal fotokopi dan ongkos kirim.

4. Berdasarkan jumlah nominal beasiswa
Biaya hidup di luar negeri biasanya lebih tinggi dari di Indonesia dan
banyak beasiswa hanyalah parsial atau mengikuti UMR Negara setempat, jadi
hidup pas-pasan. Beasiswa parsial biasanya hanya memberikan gratis uang
sekolah, gratis uang sekolah dan uang saku tapi tidak mengganti tiket,
gratis uang sekolah dan akomodasi tapi tidak memberi uang saku dst. Pelajari
betul skema beasiswa yang diminati, apa saja yang tercover. Kalau memang mau
nekat ambil beasiswa parsial, selidiki betul bagaimana menutup kekurangan
beasiswanya. Apakah ada badan lain yang dapat membantu (termasuk orang tua,
pasangan, jual property dst) ataukah universitas sendiri dapat membantu.
Pengalaman teman2 saya yang menerima beasiswa AMINEF beasiswanya memang
kurang, tapi universitas tujuan biasanya membantu dgn memberi pekerjaan
sebagai asisten dst. Kalau saya pribadi saya punya prinsip saya tidak akan
ambil beasiswa yang tidak mengcover penuh.


PERSIAPAN MENDAFTAR BEASISWA

Ketika memilih sebuah beasiswa, ada beberapa hal yang harus diperhatikan
untuk memperbesar kemungkinan kita untuk mendapatkan beasiswanya. Karena
kesempatan beasiswa hanya datang setahun sekali, harus sangat berhati-hati
memilih dan mendaftar beasiswa

1. Lihat kemampuan dan kesiapan diri sendiri
Kalau ada tawaran beasiswa, harus ada rekoleksi diri yang jujur. Apakah saya
memenuhi syarat terutama dalam hal usia, pekerjaan, latar belakang
pendidikan, pendanaan, kesehatan dst. Misalnya, kalau memang tidak punya
cadangan dana hindari beasiswa yang parsial, kecuali kalau memang siap
menghadapi resiko kesulitan financial di negara orang (meskipun biasanya
akhirnya teratasi). Kalau memang punya bayi dan beasiswa yang didaftar tidak
mengcover keluarga lalu merasa tidak siap meninggalkan keluarga ya jangan
daftar dulu, mungkin ditunda sampai anak lebih besar. Pikirkan baik-baik,
dapatkah saya meninggalkan keluarga, pekerjaan, kampong halaman dst. Selama
saya study saya sering sekali jadi tempat curhat ibu-ibu yang harus
meninggalkan anak dan suami dan juga suami-suami yang jadi kurang gizi
karena jauh dari istri. Pindah ke suatu tempat yang tidak kita kenal, jauh
dari keluarga tidak mudah, apalagi kalau kita tidak menguasai bahasa
setempat. Pertimbangkan juga stress yang akan muncul kemudian, homesickness
dst. Ketika sudah mengambil keputusan, ‘deal with it’, jangan cengeng di
negeri orang yang akhirnya akan merepotkan komunitas Indonesia di sana.
Ketika saya studi di Melbourne ada salah satu rekan saya minta pulang
setelah 2 minggu sekolah karena tidak tahan hidup tanpa istri (manja amat
sich? Hari gini?)

2. Lihat posibilitas untuk mendaftar
Hampir tidak mungkin mendaftar beasiswa tanpa restu dan ijin atasan. Sebelum
mendaftar, yakinkan bahwa atasan (artinya bos, pasangan dan keluarga) itu
mendukung. Salah satu dosen IALF pernah curhat ke saya karena salah satu
kandidat beasiswa AUSAID yang tidak jadi berangkat karena suaminya tidak
mengijinkan (lho waktu itu apa tidak pamit?). Saya juga banyak menemukan
masalah dimana atasan tidak mengijinkan (alasannya bisa karena sirik, gak
mau kehilangan staf, dst.)

3. Pahami betul persyaratan beasiswa yang akan di daftar
Setiap beasiswa ada peraturannya sendiri. Ada yang menetapkan batasan usia,
hanya terbatas untuk bidang tertentu, hanya untuk kalangan tertentu
(berdasarkan geografis, agama, etnis, status pekerjaan dst), harus punya
pengalaman kerja minimal ….. tahun, dst. Pastikan bahwa kita memenuhi SEMUA
kriteria yang diminta, karena seleksi awal adalah kelengkapan dokumen.


4. Pahami betul aplikasi beasiswanya
Mengisi formulir beasiswa juga gampan-gampang susah. Kebanyakan beasiswa
menilai kualifikasi pendaftar dari motivation letter. Pengalaman saya
membantu anggota milis beasiswa membuat motivation letter, kebanyakan
motivation letter dari pendaftar beasiswa Indonesia itu isinya muter2,
banyak pakai kata-kata yang berbunga-bunga, padahal kalau disaring tidak ada
isinya. Biasakan mengisi motivation letter itu singkat dan padat, jadi yang
membaca langsung mengerti apa yang mau disampaikan, kualifikasi pendaftar
dst. Harap diingat bahwa penyeleksi beasiswa itu harus membaca ribuan
aplikasi, jadi seleksi pertama biasanya kelengkapan dokumen, setelah itu
baru motivation letter dibaca. Dalah satu hari seorang penyeleksi harus
membaca puluhan motivation letter. Kalau motivation letter kita tidak jelas,
kemungkinan langsung dicoret. Saya biasanya pakai system dot point dalam
menulis yang diikuti penjelasan, karena itu sangat memudahkan pembaca untuk
mengikuti isi tulisan saya

Dalam mengisi formulir beasiswa sebaiknya berkonsultasi dengan orang2 yang
pernah memperoleh beasiswa itu karena mereka mungkin punya jurus2 jitu yang
tidak kita sadari. Pada waktu saya daftar Ausaid, boleh dibilang kakak saya
yang mengisi formnya melalui beberapa tahap revisi. Jangan lupa memenuhi
SEMUA persyaratan beasiswa. Kalau yang diminta international TOEFL, pastikan
yang dikirimkan adalah international TOEFL, jangan yang institusional. Kalau
diminta tiga referensi, pastikan memang menyertakan tiga referensi.
Sebaiknya referensi itu minimal satu dari atasan. Pastikan aplikasi lengkap
waktu dikirim dan dikirim sebelum deadline, dst.

5. Persiapkan peralatan tempur
Mencari beasiswa itu lebih dari sekedar cari bidang yang diingini dan isi
formulir. Ketika kita sudah merasa siap mental untuk mendaftar dan ‘jalan
menujur Roma’ sudah dibersihkan dari onak dan duri, persiapkan diri betul.
Selidiki budaya dan kebiasaan masyarakat negara tempat tujuan, supaya kamu
bisa mengantisipasi kondisi di sana. Dalam setiap wawancara, ada beberapa
pertanyaan yang intinya ingin menguji kesiapan mental kita untuk tinggal di
negara orang dan pengetahuan kita terhadap kehidupan sosial di sana. Setiap
wawancara pertanyaannya standar, di sana mau kuliah apa, kenapa ambil kuliah
itu, bagaimana nanti mengimplementasikan ilmu yang diperoleh, dst. Lakukan
persiapan yang matang sebelum maju wawancara.


6. Banyak berdoa
Kalau aplikasi sudah dikirim, sambil menunggu panggilan, banyak-banyaklah
berdoa, yang diatas juga perlu diyakinkan kenapa beasiswa itu penting buat
kamu. Biasakan kalau sudah mendaftar beasiswa segera lupakan, khan belum
tentu dapat. Kalau memang dipanggil baru berpanik-panik ria.


PERSIAPAN SETELAH MENERIMA BEASISWA

Ada dua hal penting yang harus dilakukan: persiapkan diri, dan persiapkan
orang lain.


1. Persiapan diri yang matang
Persiapan diri ini tidak hanya sebatas membuat data barang yang harus
dimasukkan ke dalam koper, tapi juga harus paham bagaimana budaya dan
kebiasaan masyarakat setempat, keberadaan masyarakat Indonesia di sana,
penginapan hari-hari pertama dimana, iklim dst. Sebelum berangkat harus
sudah punya daftar kegiatan yang akan dilakukan, alamat2 yg hrs dituju,
mesti lapor diri di uni kapan, dst

Sekolah di luar negeri itu bukan cuma untuk menambah ilmu, tetapi juga
menyelami bagaimana kehidupan di negeri sana. Jadi kalau sekolah di luar,
jangan cuma berkumpul dengan sesama orang Indonesia tapi berinteraksilah
dengan masyarakat lokal, mengasah kemampuan berbahasa asing dan menyelami
serba serbi masyarakat setempat. Itu adalah bagian dari pelajaran beasiswa,
bagian dari proses pembelajaran. Dari banyak mengamati, diskusi dan
berinteraksi, kita akan belajar banyak hal yang tidak akan kita dapat dari
textbook. Jangan lupa banyak jalan-jalan, mumpung sudah sampai sana.
Menabung memang perlu, tapi jangan kelewatan.

Perhatikan betul budaya setempat. Salah satu kebiasaan mahasiswa Indonesia
yang sangat mengganggu saya adalah kebiasaan ‘numpang makan’. Kalau ada
acara kumpul-kumpul datang terlambat, makan langsung pulang. Etika tinggal
di luar itu kalau ada acara makan, bawalah makanan untuk dimakan bersama dan
karena di luar tidak ada yang punya pembantu, ikut beres-beres setelah acara
selesai adalah wajib hukumnya. Acara makan-makan di luar negeri jangan
dijadikan ajang perbaikan gizi tapi lebih kea rah silaturahmi.

2. Persiapan keluarga yang akan dibawa/ditinggal
Kalau mau bawa keluarga, persiapkan betul mental mereka juga. Saya banyak
mengamati tingginya stress pada anak, baik jika anak dibawa bersekolah
ataupun ditinggal di rumah. Anak ternyata banyak merasa tersisihkan dalam
proses pindah, karena merasa tidak diajak kompromi, merasa terenggut dari
dunia yang dia kenal dan ditempatkan di tempat asing, kemudian dia akan
mengalami stress kedua saat harus kembali ke Indonesia. Ketika anak
ditinggal, ia akan merasa terbuang, bahwa orang tuanya tidak mencintainya
ketika mereka pergi sekolah. Memberikan pemahaman pada anak sering butuh
waktu yang panjang (hal yang sama juga berlaku untuk orang tua). Jangankan
manusia, anjing saya pun stress kalau lihat saya mulai mengisi koper karena
artinya ia akan ditinggal dan jadi super manja, tidak mau makan, cari
perhatian dst.

Kalau mau bawa pasangan, ini juga tidak selalu pilihan yang tepat. Biasanya
kalau suami yang membawa istri tidak masalah karena istri biasanya lebih
pasrah dan mendukung suami. Biasanya suami-suami ini mengalami masalah makan
karena banyak yang tidak bisa masak dan baru membaik saat istrinya tiba.
Sayangnya kebalikannya tidak selalu sama. Saya banyak jadi tempat curhat
istri-istri bete dengan suaminya yang mereka tenteng ke luar negeri.
Sayangnya memang masyarakat kita masih sangat chauvinist. Ternyata
suami-suami yang jadi pengangguran di luar negeri sering frustrasi karena
bosan tidak melakukan apa-apa, banyak yang tidak bisa komunikasi dengan
masyarakat luar. Banyak istri-istri mengeluh karena setelah suami tiba
pekerjaan bertambah, capek sekolah seharian, sampai di rumah masih harus
masak, beres-beres rumah dst. Meskipun banyak juga yang suaminya berubah
jadi pinter urus anak, pinter masak dst. Saran saya kalau mau bawa pasangan,
lihat baik-baik karakter pasangannya, kalau tipe yang bikin repot, lebih
baik ditinggal saja di rumah. Atau ikuti yang saya lakukan: Jangan menikah
kalau masih suka keluyuran keluar negeri.