Mush’ab bin Umair

Duta Islam yang pertama

Mush’ab Bin Umair…. Masuk Islam setelah terpesona mendengar untaian Ayat-ayat Suci Al-Qur’an yang dibacakan Rasulullah SAW yang langsung menemui sasaran kalbu-nya…

Masuknya Mush’ab Bin Umair ke dalam Islam menyebabkannya harus disidang dihadapan Ibu, keluarga dan petinggi-petinggi kaum Quraisy….Kegigihan luar biasa dalam kekafiran di pihak Ibu dan sebaliknya kebulatan tekad dalam mempertahankan keimanan dari pihak anak mengakibatkan perpisahan antara keduanya terjadi…sang ibu mengusirnya sambil berkata “ Pergilah sesuka hatimu, aku bukan ibumu lagi “ maka Mush’ab pun menghampiri ibunya sambil berkata, “Wahai bunda, telah ananda sampaikan nasehat kepada bunda dan ananda menaruh kasihan kepada bunda, karena itu saksikanlah bahwa tiada Tuhan melainkan Allah dan Muhammad adalah Hamba dan UtusanNya ”, Demikianlah Mush’ab meninggalkan kemewahan dan kesenangan yang dialaminya, memilih hidup miskin dan sengsara, menjadi seorang yang melarat dengan pakaian yang kasar dan usang, sehari makan dan beberapa hari menderita lapar tapi jiwanya yang telah dihiasi dengan aqidah suci dan cemerlang berkat sepuhan Nur Illahi telah merubah diri-nya menjadi seorang manusia lain, yaitu manusia yang dihormati penuh wibawa dan disegani..

Para sahabat demi melihat Mush’ab, mereka semua menundukan kepala dan memejamkan mata, sementara beberapa orang matanya basah karena duka, mereka melihat Mush’ab memakai jubah usang yang bertambal tambal, padahal sebelum masuk Islam, pakaiannya tak ubahnya bagaikan kembang ditaman berwarna-warni dan menghamburkan bau yang wangi,… hingga Rasulullah bersabda :

Dahulu Saya lihat Mush’ab ini tak ada yang mengimbangi dalam memperoleh kesenangan dari orang tuanya, kemudian di tinggalkannya semua demi cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya”

Suatu saat Mush’ab dipilih Rasulullah SAW untuk melakukan tugas maha penting, Ia menjadi Duta atau Utusan Rasul ke Madinah untuk mengajarkan seluk beluk Agama kepada orang-orang Anshar yang telah beriman dan bai’at kepada Rasulullah di bukit Aqabah…

Dan pilihan Rasulullah ternyata tepat sekali, sesampainya di Madinah didapatinya Kamu Muslimin disana tidak lebih dari dua belas orang, yakni orang-orang yang telah bai’at di bukit Aqabah. Tetapi tiada sampai beberapa bulan kemudian, meningkatlah orang yang sama-sama memenuhi panggilan Allah dan Rasul-Nya.

Di Madinah Mush’ab tinggal sebagai tamu di rumah As’ad bin Zararah, dengan didampingi As’ad, ia pergi mengunjungi kabilah-kabilah, rumah-rumah dan tempat-tempat pertemuan, untuk membacakan ayat-ayat Kitab Suci dari Allah, menyampaikan kalimattullah “ Bahwa Allah Tuhan Maha Esa “ secara hati-hati.

Ketika sedang memberikan petuah kepada orang-orang, tiba-tiba disergap Usaid Bin Hudlair kepala suku kabilah Abdul Asyhal di Madinah. Usaid menodong Mush’ab dengan menyentakan lembingnya, bukan main marah dan murkanya Usaid, menyaksikan Mush’ab yang dianggap akan mengacau dan menyelewengkan anak buahnya dari agama mereka.

Demi melihat kedatangan Usaid Bin Hudlair yang murka bagaikan api sedang berkobar kepada orang-orang Islam yang duduk bersama Mush’ab, mereka pun merasa kecut dan takut, tetapi “Mush’ab yang baik” tetap tinggal tenang dengan air muka yang tidak berubah., seperti tenang dan mantapnya samudra dalam… laksana terang dan damainya cahaya fajar, terpancarlah ketulusan hati “Mush’ab yang baik” dan bergeraklah lidahnya mengeluarkan ucapan halus, katanya : “ kenapa anda tidak duduk dan mendengarkan dulu ? seandainya anda menyukai nanti, anda dapat menerimanya, sebaliknya jiak tidak, kami akan menghentikan apa yang tidak anda sukai itu.! Sebenarnya Usaid seorang yang berakal dan berpikiran sehat hingga terucap “sekarang saya insyaf” ujar Usaid, lalu menjatuhkan lembingnya ke tanah dan duduk mendengarkan, demi Mush’ab membacakan ayat-ayat Al Qur’an dan menguraikan da’wah yang di bawa oelh Muhammad bin Abdullah SAW, maka dada Usaid pun mulai terbuka dan bercahaya,,, beberapa lama Usaid meninggalkan mereka kemudian kembali sambil memeras air dari rambutnya, lalu berdiri sambil menyatakan pengakuannya bahwa tiada Tuhan yang Haq di ibadahi melainkan Allah dan bahwa Muhammad itu utusan Allah…..

Secepatnya berita ini tersiar hingga langkah Usaid diikuti oleh Sa’ad bin Mua’ads, Sa’ad bin Ubadah, hingga warga kota Madinah saling berdatangan dan bertanya-tanya “ kalau mereka telah masuk Islam, apalagi yang kita tunggu..??? sungguh kebernaran terpancar dari celah-celah gigi Mush’ab bin Umair.

Demikianlah Duta Rasulullah yang pertama telah mencapai hasil yang gemilang tiada taranya,,hingga tibalah saatnya pada perang Uhud, maka terpanggilah “Mush’ab yang Baik” dan pahlawan itu tampil sebagai pembawa bendera. Peperangan berkobar lalu berkecamuk dengan sengitnya, pasukan panah ternyata melanggar tidak mentaati peraturan Rasulullah, mereka meninggalkan kedudukannya di celah bukit setelah melihat orang-orang musyrikmenderita kekalahan dan mengundurkan diri. Perbuatan mereka itu secepatnya merubah suasana, hingga kemenangan Kaum Muslimin beralih menjadi kekalahan. Mush’ab bin Umair menyadari suasana gawat ini. Maka dengan diacungkannya bendera setinggi-tingginya dan bagaikan auman singa, ia bertakbir sekeras-kerasnya lalu menuju ke muka, melompat, mengelak dan berputar lalu menerkam, minatnya untuk menarik perhatian musuh kepadanya dan melupakan target mereka Rasulullah SAW, dengan demikian dirinya pribadi bagaikan membentuk barisan tentara…sungguh walaupun seorang diri tetapi Mush’ab bertempur laksana pasukan tentara besar, sebelah tangannya memegang bendera bagaikan tameng kesaktian, sedang yang sebelah lagi menebaskan pedang dengan matanya yang tajam,, tetapi musuh kian bertambah banyak juga, mereka hendak menyeberang dengan menginjak-injak tubuhnya untuk mencapai Rasulullah..

Sekarang marilah kita perhatiakn saksi mata, berkata Ibnu Sa’ad : diceritakan kepada kami oleh Ibrahim bin Muhammad bin Syurahbil al-Abdari dari bapaknya :

Mush’ab bin Umair adalah pembawa bendera di pernag Uhud. Tatkala barisan Kaum Muslimin pecah, Mush’ab bertahan pada kedudukannya. Datanglah seorang musuh berkuda, Ibnu Qumaiah namanya, lalu menebas tanganya hingga putus, sementara Mush’ab mengucapkan : Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul, yang sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rasul, maka dipegangnya bendera dengan tangan kirinya sambil membungkuk melindunginya.musuh pun menebas tangan kirinya itu hingga putus pula. Mush’ab membungkuk kea rah bendera, lalu dengan kedua pangkal lengan meraihnya ke dada sambil mengucapkan : Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul, dan sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rasul , lalu orang berkuda itu menyerangnya ketiga kali dengan tombak dan menusukkannya hingga tombak itupun patah. Mush’ab pun gugur dan bendera jatuh”

Gugurlah Mush’ab dan jatuhlah bendera….ia gugur sebagai bintang dan mahkota para syuhada..demi cintanya yang tiada terbatas kepada Rasulullah dan cemas memikirkan nasibnya nanti, ketika ia kaan pergi berlalu, setiap kali pedang jatuh menerbangkan sebelah tanganya, dihiburnya dirinya dengan ucapan : “ Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul, dan sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rasul” Kalimat ini yang kemudian dikukuhkan sebagai wahyu ini selalu diulang dan dibaca-nya sampai selesai, hingga akhirnya menjadi ayat Al-Quran yang selalu dibaca orang….

Usai perang, Rasulullah SAW melihat penuhnya medan laga dengan mayat para sahabat dan kawan-kawannya, masing-masing mereka baginya merupakan panji-panji ketulusan, kesucian dan cahaya, Rasulullah berdiri di depan Mush’ab bin Umair dengan pandangan mata yang pendek bagai menyelubunginya dengan kesetiaan dan kasih sayang, dibcakan ayat:

di antara orang-orang Mu’min terdapat pahlawan-pahlawan yang telah menepati janjinya dengan Allah ( Q.S 33 al-Ahzab:23 )”

Kemudian dengan mengeluh memandangi burdah yang digunakan untuk kain tutupnya, seraya bersabda :

Ketika Mekkah dulu, tak seorangpun aku lihat yang lebih halus pakaiannya dan lebih rapi rambutnya dari padamu, tetapi sekarang ini, dengan rambutmu yang kusut masai, hanya dibalut sehelai burdah “

Setelah melayangkan pandang, pandangan sayu kearah medan laga serta para syuhada kawan-kawan Mush’ab yang tergeletak diatasnya, Rasulullah bersabda :

Sungguh, Rasulullah akan menjadi saksi nanti di hari qiamat, bahwa tuan-tuan semua adalah syuhada di sisi Allah”

Kemudian sambil berpaling kearah sahabat yang masih hidup, sabdanya :

Hai manusia! Berziarahlah dan berkunjunglah kepada mereka, serta ucapkanlah salam! Demi Allah yang menguasai nyawaku, tak seorang Muslim pun sampai hari qiamat yang memberi salam kepada mereka, pasti mereka akan membalasnya “

Salam Atasmu wahai Mush’ab…..

Salam atasmu sekalian, wahai para syuhada………

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: