Archive for October, 2008

Kehilangan ATM

Yaa…yaa..yaa….kejadian itu terulang kembali..hiks..hiks..hiks. Kayanya kurang shodaqoh nih, sampe bisa kehilangan ATM lagi….hihihi. Yaps, beberapa hari yang lalu kartu ATM ilang lagi, tepatnya lupa ilangnya dimana…terakhir kali ngambil duit tuh di ATM Mandiri Carrefour Cikokol.

Setelah selesai ngambil duit, kayanya langsung pulang ke rumah dan ngga mampir sama sekali. Dan setelah dicek di rumah, OMG (kalo ngga tau artinya, search di mbah google :D)…..udah ngga ada euy ATMnya (alhamdulillah…untung ATM Mandiri doank yang hilang..hihihi), jadi ngga perlu ngurus sana-sini seperti waktu dulu.

Seminggu kemudian setelah kehilangan ATM tersebut baru ngurus Surat Kehilangan ke kepolisian (kemarin sih dateng aja langsung ke polsek)….duduk sebentar dan ditanya2 tentang kejadiannya, kasih uang 20.000..langsung jadi deh. Nah tinggal ngurus ke Bank Mandirinya yang membutuhkan waktu lagi jadi terpaksa harus cuti sehari tepatnya kemarin (red. 30 Oktober 2008) karena gaji udah turun..hehehe. Pagi-pagi udah siap berangkat ke Bank dengan tidak lupa membawa buku tabungannya dan surat kehilangan. Perngurusannya lumayan cepet dan ngga berbelit-belit, hanya membutuhkan waktu 30 menit. Setelah kartu selesai, yaa..disuruh tunggu beberapa jam baru bisa ngambil uang lewat atm. Uhhuuyyy…akhirnya setelah bisa ngambil uang lagi dan gaji bisa cairrrr…

Hikmah dari hilangnya atm :

  • Bisa istirahat di rumah setelah 3 hari ujicoba trial aplikasi…hihihi.
  • Akhirnya bisa YM-an kembali..say hello ke temen-temen.
  • Ketemu dengan teller Bank Syariah Mandiri (ternyata dia masih inget aku..:D, dan sekarang aku sudah tau namanya..jadi pengen buru-buru nabung lagi..hahaha ).

Salman Al-Farisi

PENCARI KEBENARAN

Nenek moyangku Bangsa Persi, Aku berasal dari Isfahan, suatu desa bernama “Ji” . Bapakku seorang Bupati didaerah itu, Aku merupakan Makluk Allah yang paling disayanginya, Aku membaktikan diri dalam agama majusi, hingga diserahi tugas sebagai penjaga api yang bertanggung jawab atas nyalanya dan tidak membiarkannya padam…

Suatu saat aku melihat beberapa orang sedang sembahyang, aku kagum melihat cara mereka sembahyang, ini lebih baik dari yang apa yang aku anut selama ini,!’’ lalu aku tanyakan asal-usul mereka, ternyata

mereka Nashrani dari Syria, ketika aku sampaikan hal ini kepada Bapakku dan berakhir dengan dirantainya kakiku serta dipenjarakannya. Sampai suatu saat aku berhasil lolos dan ikut bergabung dengan orang-orang Nashrani menuju Syria,, aku tinggal dengan seorang Uskup pemilik gereja, sayang Uskup ini seorang yang tidak baik beragamanya karena dia mengumpulkan sedekah dengan alas an dibagikan, ternyata disimpan untuk keperluan pribadi, sampai uskup itu wafat….

Mereka mengangkat orang lain sebagai gantinya, dan kulihat uskup ini baik beragamanya, akupun mencintainya demikian rupa, dan tatkala ajalnya telah dekat, aku bertanya : “sebagai anda maklumi. Telah dekat saat berlakunya takdir Allah atas diri anda, maka apa yang harus aku perbuat, siapakah yang harus aku hubungi? Anakku , ujarnya : temuilah seorang pemimpin di mosul, lalu tatkala ia wafat akupun berangkat menghubungi Pendeta yang disebutkannya tadi, aku tinggal selama waktu yang dikehendaki Allah,

Smpai ketika ajalnya pun telah dekat pula, kutanyakan kepadanya siapa yang harus aku turuti. Ditinjukannya seorang shalih yang tinggal di Nasibin, aku dating kepadanya lalu tinggal bersamanya selama waktu yang dikehendaki Allah pula, tatkala ia hendak meninggal, kubertanya pula kepadanya, maka disuruhnya aku menghubungi seorang pemimpin yang tinggal di Amuria. Suatu kota yang termasuk wilayah romawi, akupun tinggal dengannya dan dengan bekal hidup beternak sapid an kambing, kemudian dekatlah ajalnya pula, kutanyakan pula kepada siapa aku di percayakan? Ujarnya “ anakku! tak seorang pun yang kukenal serupa dengan kita keadaannya dan dapat aku percayakan engkau padanya, tetapi sekarang telah dekat datangnya masa kebangkitan seorang Nabi yang mengikuti agama Ibrahim secara murni, Ian anti akan hijrah ke suatu tempat yang ditumbuhi kurma dan terletak di antara dua bidang tanah berbatu-batu hitam. Seandainya kamu dapat pergi kesana, temuilah dia! Ia mempunyai tanda-tanda yang jelas dan gambling; ia tidak mau makan shodaqoh, sebaliknya bersedia menerima hadiah dan di pundaknya ada cap kenabian yang bisal kau melihatnya segeralah kau mengelainya”

Hingga suatu saat aku ikut rombongan dari jazirah arab, mereka membawaku hingga di suatu negeri bernama Wadil Qura, disini aku mengalami penganiayaan, mereka menjualku kepada seorang Yahudi, mulai saat itu aku tinggal bersama orang yang membeliku, hingga suatu ketika aku dengar dari Yahudi yang mengatakan ada seorang laki-laki di Quba datang dari mekah dan mengaku sebagai Nabi..

Setelah hari petang aku kumpulkan yang aku punya,lalu pergi menemui Rasulullah di Quba, lantas aku berikan shodaqoh, lalu makanan itu aku taruh du hadapannya : Makanlah dengan nama Allah Sabda Rasulullah kepada para sahabatnya, tapi Beliau tak sedikipun mengulurkan tanganya untuk menjamah makanan itu… “ nah demi Allah!~ kataku dalam hati “ inilah satu tanda-tandanya…bahwa ia tak mau memakan harta shodaqoh”

Keesokan harinya aku kembali menemui rasulullah dengan membawa makanan, kutaruh di hadapannya dan aku katakan ini sebagai hadiah buat tuan, maka sabdanya kepada sahabatnya : “ Makanlah dengan menyebut nama Allah” dan beliaupun turut makan bersama mereka, “ demi Allah “ inilah tanda yang kedua, “bahwa ia bersedia menerima hadiah”

Hingga suatu saat ketika aku punya kesempatan untuk melihat tanda yang terakhir yaitu cap kenabian ketika Rasulullah sedang mengiringi jenazah di Baqi’, kain burdah di lehernya disingkapkan sehingga aku bisa melihatnya dengan jelas… lalu aku dipanggil untuk menghadap Rasulullah, lalu aku ceritakan kisahku kepadanya seperti yang telah aku ceritakan tadi,,, kemudian aku masuk Islam, dan perbudakan menjadi penghalang bagiku untuk menyertai perang Badar dan Uhud, lalu pada suatu hari Rasulullah menitahkan padaku :

mintalah pada majikanmu agar ia bersedia membebaskanmu dengan menerima uang tebusan”

Demikianlah aku dimerdekakan oleh Allah dan hidup sebagai muslim yan bebas merdeka, serta mengambil bagian bersama Raslullah dalam perang khandaq ( parit ) dan peperangan lainnya.

Salman al-Farisi pernah tinggal bersama Abu Darda yang mempunyai kebiasaan beribadah di waktu malam dan shaum di waktu siang… Salman melarangnya keterlaluan dalam beribadah seperti itu, dengan lemah lembut ia mengatakan : “sesungguhnya kedua matamu mempunyai hak atas dirimu, demikian pula keluargamu mempunyai hak atas dirimu, disamping engkau shaum, berbukalah dan disamping melakukan sholat, tidurlah” peristiwa ini sampai ke telinga Rasulullah, maka sabdanya :

Sungguh, Salman telah dipenuhi dengan Ilmu”

Rasulullah sering memuji kecerdasan Salman serta ketinggian ilmunya, sebagaimana beliau memuji agama dan budi pekertinya yang luhur, ketika orang Anshar dan Muhajirin memperebutkannya, Rasulullah bersabda :

Salman adalah golongan kami, Ahlul Bait”

Begitulah semenjak bertemu Rasulullah dan iman kepadanya, Salman hidup sebagi seorang muslim yang merdeka, iapun mengalami kehidupan masa Khalifah Abu Bakar, Kemudian Amirul Mu’minin Umar, lalu di masa khalifah Utsman, diwaktu mana ia kembali ke hadlirat Tuhannya.

Hingga masa kejayaan, kesenangan dan kemakmuran Islam.. Salman yang tinggi jangkung dan berambut lebat yang disayangi dan dihormati oleh Rasulullah SAW, tetap bersahaja,, coab kita lihat dimana-kah Salman.???

Tampaklah oleh anda seorang tua berwibawa duduk dibawah naungan pohon, sedang asyik memanfaatkan sisa waktunya disamping berbakti untuk Negara, menganyam dan menjalin daun kurma untuk dijadikan bakul atau keranjang, nah itulah Salman…! Lihatlah kainnya yang pendek, karena amat pendeknya sampai terbuka kedua lututnya, pdahal ia seorang tua yang berwibawa, mampu dan tida berkekurangan, tunjangan yang diperolehnya tidak sedikit, antara empat sampai enam ribu setahun, tapi semua itu disumbangkannya, satu dirhampun tak diambil untuk dirinya , katanya : “ untuk bahannya kubeli daun satu dirham, lalu kuperbuat dan kujual tiga dirham, yang satu dirham kuambil untuk modal, satu dirham lagi untuk nafkah keluargaku sedang satu dirham sisanya untuk shodaqoh, seandainya Umar bin Khattab melarangku berbuat demikian, sekali-kali tiadalah akan kuhentikan!~

Kalau kita lihat latar belakang Salman Al-Farisi yang putera Persi, suatu negeri yang terkenal dengan kemewahan dan kesenangan serta hidup boros , sedang ia bukan dari golongan miskin atau bawahan tapi dari golongan berpunya dan keals tinggi, kenapa ia sekarang menolak harta, kekayaan dan kesenangan, bertahan dengan kehidupan bersahaja, tiada lebih dari satu dirham tiap harinya, yang diperoleh dari hasil jerih payahnya sendiri….????

Diriwayatkan oleh Hisyam bin Hisan dari Hasan : “ Tunjangan Salman sebanyak lima ribu sethun, ketika ia berpidato di hadapan tigapuluh ribu orang, separuh baju luarnya ( aba’ah ) dijadikan alas duduknya dan separuh lagi menutupi badannya, juika tunjangan keluar, maka dibagi-bagikanya sampai habis, sedang untuk nafkahnya dari hasil usaha kedua tangannya”

Kenapa ia melakukan perbuatan seperti itu dan amat zuhud kepada dunia?? Mari kita dengar jawabannya ketika menjelang ajalnya ,

Sa’ad bin Abi Waqqash datang menjenguknya, lalu Salman menangis, apa yang anda tangiskan, wahai Abu Abdillah ( panggilan sehari-hari Salman Al-Farisi ), padahal Rasulullah wafat dalam keadaan ridla kepada anda?? Demi Allah, ujar Salman” daku menangis bukan karena takut mati atau mengharapkemewahan dunia, hanya Rasulullah telah menyampaikan suatu pesan kepada kita, sabda-nya:

Hendaklah bagian masing-masingmu dari kekayaan dunia ini seperti bekal seorang pengendara “

Padahal harta milikku begini banyaknya.

Kata Sa’ad : “ saya perhatikan, tak ada yang tampak di sekelilingku kecuali satu piring dan sebuah baskom. Lalu kataku padanya : “ Wahai Abu Abdillah, berilah kami suatu pean yang akan kami ingat selalu darimu!” maka ujarnya:

Wahai Sa’ad! , Ingatlah Allah di kala dukamu, sedang kau derita. Dan pada putusanmu jika kamu menghukumi dan pada saat tanganmu melakukan pembagian”.

Rupanya inilah yang mengisi kalbu Salman mengenai kekayaan dan kepuasan. Yaitu pesan Rasulullah SAW, kepadanya dan kepada semua sahabatnya, agar mereka tidak dikuasi oleh dunia dan tidak mengambil bagian daripadanya, kecuali sekedar bekal seorang pengendara.

Pada hari-hari ia bertugas sebagai amir atau kepala daerah di Madain, ia menolak untuk menerima gaji sebagai amir, ia tetap mengambil nafkahnya dari hasil menganyam daun kurma, sedang pakaiannya tidak lebih dari sehelai baju luar, dalam kesederhanaan dan kesahajaannya tak berbeda dengan baju usangnya.

Pada suatu hari ketika sedang berjalan di suatu jalan raya, ia didatangi seorang laki-laki Syria yang membawa sepikul buah tin dan kurma, demi dilihat olehnya seorang laki-laki yang tampak sebagai orang biasa, ia member isyarat supaya datang kepadanya dan Salman menurut dengan patuh, “ Tolong bwakan barangku ini!” nanti akan diberi imbalan atas jerih payahnya..

Ditengah perjalanan, mereka berpapasan dengan satu rombongan, Salman member salam kepada mereka yang dijawabnya sambil berhenti: “ juga kepada amir, kami ucapkan salam”

Juag kepada amir…??? Amir mana yang mereka maksudkan?? Tanya orang Syria dalam hati, keheranannya semakin bertambah ketika dilihatnya sebagian dari anggota rombongan segera menuju beban yang dipikul oleh Salman dengan maksud hendak menggantikannya, kata mereka : “ berikanlah kepda kami wahai Amir!”.

Sekarang mengertilah orang Syria itu bahwa kuli-nya tiada lain Salman Al-Farisi, amir dari kota Madain, orang itu menjadi gugup, kata-kata penyesalan terucap, Salman menggelengkan kepala ketika orang Syria hendak menraik beban ditanganya : “Tidak, sebelum kuantarkan sampai ke tujuan

Ketika Salman ditanya orang : apa sebabnya anda tidak menyukai jabatan sebagai amir..?? jawabnya : “ karena manis waktu memegangnya tapi pahit waktu melepasnya!”

Pada ketika yang lain, seorang sahabat memasuki rumah Salman, didapatinya ia sedang duduk menggodok tepung, maka Tanya sahabat itu : kemana pelayan ? ujarnya “saya suruh untuk suatu keperluan, maka saya tak ingin ia harus melakukan dua pekerjaan sekaligus”.

Tak satupun barang berharga dalam kehidupan dunia ini yang digemari atau diutamakan oleh Salman sedikitpun, kecuali suatu barang ynag amat diharapkan dan dipentingkannya, bahkan telah dititipkan kepada istrinya untuk disimpan di tempat yang tersembunyi dan aman.

Ketika ajal akan menjemputnya,, pada pagi hari kepergiannya, dipanggilah istrinya utnuk mengambil titiapnnya dahulu, kiranya hanyalah seikat kesturi yang diperolehnyawaktu pembebasan Jalula dahulu,. Barang itu senagja disimpan untuk wangi-wangian di hari wafatnya, kemudian sang istri disuruhnya mangambil secangkir air, ditaburinya dengan kesturi, lalu kata Salman kepada istrinya: “ percikkanlah air ini ke sekelilingku… sekarang telah hadir dihadapanku makhluq Allah ( Malaikat ) yang tiada dapat makan, hanyalah gemar wangi-wangian…!!

Setelah selesai, ia berkata kepada istrinya: “ tutupkanlah pintu dan turunlah!” perintah itupun diturut oleh istrinya. Dan tak lama antaranya istrinya kembali masuk, didapatinya ruh yang beroleh berkah telah meninggalkan duinia dan berpisah dari jasadnya… ia telah mencapi alam tinggi, dibawa terbang oleh sayap kerinduan; rindu memenuhi janjinya, untuk nbertemu lagi dengan Rasulullah Muhammad SAW dan dengan kedua sahabatnya Abu Bakar dan Umar, serta tokoh-tokoh mulia lainnya dari golongan syuhada dan orang-orang utama…….

Salman…………….

Lamalah sudah terobati hati rindunya…….

Terasa puas, hapus haus hilang dahaga…..

Semoga Ridla dan Rahmat Allah Menyertainya.

Mush’ab bin Umair

Duta Islam yang pertama

Mush’ab Bin Umair…. Masuk Islam setelah terpesona mendengar untaian Ayat-ayat Suci Al-Qur’an yang dibacakan Rasulullah SAW yang langsung menemui sasaran kalbu-nya…

Masuknya Mush’ab Bin Umair ke dalam Islam menyebabkannya harus disidang dihadapan Ibu, keluarga dan petinggi-petinggi kaum Quraisy….Kegigihan luar biasa dalam kekafiran di pihak Ibu dan sebaliknya kebulatan tekad dalam mempertahankan keimanan dari pihak anak mengakibatkan perpisahan antara keduanya terjadi…sang ibu mengusirnya sambil berkata “ Pergilah sesuka hatimu, aku bukan ibumu lagi “ maka Mush’ab pun menghampiri ibunya sambil berkata, “Wahai bunda, telah ananda sampaikan nasehat kepada bunda dan ananda menaruh kasihan kepada bunda, karena itu saksikanlah bahwa tiada Tuhan melainkan Allah dan Muhammad adalah Hamba dan UtusanNya ”, Demikianlah Mush’ab meninggalkan kemewahan dan kesenangan yang dialaminya, memilih hidup miskin dan sengsara, menjadi seorang yang melarat dengan pakaian yang kasar dan usang, sehari makan dan beberapa hari menderita lapar tapi jiwanya yang telah dihiasi dengan aqidah suci dan cemerlang berkat sepuhan Nur Illahi telah merubah diri-nya menjadi seorang manusia lain, yaitu manusia yang dihormati penuh wibawa dan disegani..

Para sahabat demi melihat Mush’ab, mereka semua menundukan kepala dan memejamkan mata, sementara beberapa orang matanya basah karena duka, mereka melihat Mush’ab memakai jubah usang yang bertambal tambal, padahal sebelum masuk Islam, pakaiannya tak ubahnya bagaikan kembang ditaman berwarna-warni dan menghamburkan bau yang wangi,… hingga Rasulullah bersabda :

Dahulu Saya lihat Mush’ab ini tak ada yang mengimbangi dalam memperoleh kesenangan dari orang tuanya, kemudian di tinggalkannya semua demi cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya”

Suatu saat Mush’ab dipilih Rasulullah SAW untuk melakukan tugas maha penting, Ia menjadi Duta atau Utusan Rasul ke Madinah untuk mengajarkan seluk beluk Agama kepada orang-orang Anshar yang telah beriman dan bai’at kepada Rasulullah di bukit Aqabah…

Dan pilihan Rasulullah ternyata tepat sekali, sesampainya di Madinah didapatinya Kamu Muslimin disana tidak lebih dari dua belas orang, yakni orang-orang yang telah bai’at di bukit Aqabah. Tetapi tiada sampai beberapa bulan kemudian, meningkatlah orang yang sama-sama memenuhi panggilan Allah dan Rasul-Nya.

Di Madinah Mush’ab tinggal sebagai tamu di rumah As’ad bin Zararah, dengan didampingi As’ad, ia pergi mengunjungi kabilah-kabilah, rumah-rumah dan tempat-tempat pertemuan, untuk membacakan ayat-ayat Kitab Suci dari Allah, menyampaikan kalimattullah “ Bahwa Allah Tuhan Maha Esa “ secara hati-hati.

Ketika sedang memberikan petuah kepada orang-orang, tiba-tiba disergap Usaid Bin Hudlair kepala suku kabilah Abdul Asyhal di Madinah. Usaid menodong Mush’ab dengan menyentakan lembingnya, bukan main marah dan murkanya Usaid, menyaksikan Mush’ab yang dianggap akan mengacau dan menyelewengkan anak buahnya dari agama mereka.

Demi melihat kedatangan Usaid Bin Hudlair yang murka bagaikan api sedang berkobar kepada orang-orang Islam yang duduk bersama Mush’ab, mereka pun merasa kecut dan takut, tetapi “Mush’ab yang baik” tetap tinggal tenang dengan air muka yang tidak berubah., seperti tenang dan mantapnya samudra dalam… laksana terang dan damainya cahaya fajar, terpancarlah ketulusan hati “Mush’ab yang baik” dan bergeraklah lidahnya mengeluarkan ucapan halus, katanya : “ kenapa anda tidak duduk dan mendengarkan dulu ? seandainya anda menyukai nanti, anda dapat menerimanya, sebaliknya jiak tidak, kami akan menghentikan apa yang tidak anda sukai itu.! Sebenarnya Usaid seorang yang berakal dan berpikiran sehat hingga terucap “sekarang saya insyaf” ujar Usaid, lalu menjatuhkan lembingnya ke tanah dan duduk mendengarkan, demi Mush’ab membacakan ayat-ayat Al Qur’an dan menguraikan da’wah yang di bawa oelh Muhammad bin Abdullah SAW, maka dada Usaid pun mulai terbuka dan bercahaya,,, beberapa lama Usaid meninggalkan mereka kemudian kembali sambil memeras air dari rambutnya, lalu berdiri sambil menyatakan pengakuannya bahwa tiada Tuhan yang Haq di ibadahi melainkan Allah dan bahwa Muhammad itu utusan Allah…..

Secepatnya berita ini tersiar hingga langkah Usaid diikuti oleh Sa’ad bin Mua’ads, Sa’ad bin Ubadah, hingga warga kota Madinah saling berdatangan dan bertanya-tanya “ kalau mereka telah masuk Islam, apalagi yang kita tunggu..??? sungguh kebernaran terpancar dari celah-celah gigi Mush’ab bin Umair.

Demikianlah Duta Rasulullah yang pertama telah mencapai hasil yang gemilang tiada taranya,,hingga tibalah saatnya pada perang Uhud, maka terpanggilah “Mush’ab yang Baik” dan pahlawan itu tampil sebagai pembawa bendera. Peperangan berkobar lalu berkecamuk dengan sengitnya, pasukan panah ternyata melanggar tidak mentaati peraturan Rasulullah, mereka meninggalkan kedudukannya di celah bukit setelah melihat orang-orang musyrikmenderita kekalahan dan mengundurkan diri. Perbuatan mereka itu secepatnya merubah suasana, hingga kemenangan Kaum Muslimin beralih menjadi kekalahan. Mush’ab bin Umair menyadari suasana gawat ini. Maka dengan diacungkannya bendera setinggi-tingginya dan bagaikan auman singa, ia bertakbir sekeras-kerasnya lalu menuju ke muka, melompat, mengelak dan berputar lalu menerkam, minatnya untuk menarik perhatian musuh kepadanya dan melupakan target mereka Rasulullah SAW, dengan demikian dirinya pribadi bagaikan membentuk barisan tentara…sungguh walaupun seorang diri tetapi Mush’ab bertempur laksana pasukan tentara besar, sebelah tangannya memegang bendera bagaikan tameng kesaktian, sedang yang sebelah lagi menebaskan pedang dengan matanya yang tajam,, tetapi musuh kian bertambah banyak juga, mereka hendak menyeberang dengan menginjak-injak tubuhnya untuk mencapai Rasulullah..

Sekarang marilah kita perhatiakn saksi mata, berkata Ibnu Sa’ad : diceritakan kepada kami oleh Ibrahim bin Muhammad bin Syurahbil al-Abdari dari bapaknya :

Mush’ab bin Umair adalah pembawa bendera di pernag Uhud. Tatkala barisan Kaum Muslimin pecah, Mush’ab bertahan pada kedudukannya. Datanglah seorang musuh berkuda, Ibnu Qumaiah namanya, lalu menebas tanganya hingga putus, sementara Mush’ab mengucapkan : Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul, yang sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rasul, maka dipegangnya bendera dengan tangan kirinya sambil membungkuk melindunginya.musuh pun menebas tangan kirinya itu hingga putus pula. Mush’ab membungkuk kea rah bendera, lalu dengan kedua pangkal lengan meraihnya ke dada sambil mengucapkan : Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul, dan sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rasul , lalu orang berkuda itu menyerangnya ketiga kali dengan tombak dan menusukkannya hingga tombak itupun patah. Mush’ab pun gugur dan bendera jatuh”

Gugurlah Mush’ab dan jatuhlah bendera….ia gugur sebagai bintang dan mahkota para syuhada..demi cintanya yang tiada terbatas kepada Rasulullah dan cemas memikirkan nasibnya nanti, ketika ia kaan pergi berlalu, setiap kali pedang jatuh menerbangkan sebelah tanganya, dihiburnya dirinya dengan ucapan : “ Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul, dan sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rasul” Kalimat ini yang kemudian dikukuhkan sebagai wahyu ini selalu diulang dan dibaca-nya sampai selesai, hingga akhirnya menjadi ayat Al-Quran yang selalu dibaca orang….

Usai perang, Rasulullah SAW melihat penuhnya medan laga dengan mayat para sahabat dan kawan-kawannya, masing-masing mereka baginya merupakan panji-panji ketulusan, kesucian dan cahaya, Rasulullah berdiri di depan Mush’ab bin Umair dengan pandangan mata yang pendek bagai menyelubunginya dengan kesetiaan dan kasih sayang, dibcakan ayat:

di antara orang-orang Mu’min terdapat pahlawan-pahlawan yang telah menepati janjinya dengan Allah ( Q.S 33 al-Ahzab:23 )”

Kemudian dengan mengeluh memandangi burdah yang digunakan untuk kain tutupnya, seraya bersabda :

Ketika Mekkah dulu, tak seorangpun aku lihat yang lebih halus pakaiannya dan lebih rapi rambutnya dari padamu, tetapi sekarang ini, dengan rambutmu yang kusut masai, hanya dibalut sehelai burdah “

Setelah melayangkan pandang, pandangan sayu kearah medan laga serta para syuhada kawan-kawan Mush’ab yang tergeletak diatasnya, Rasulullah bersabda :

Sungguh, Rasulullah akan menjadi saksi nanti di hari qiamat, bahwa tuan-tuan semua adalah syuhada di sisi Allah”

Kemudian sambil berpaling kearah sahabat yang masih hidup, sabdanya :

Hai manusia! Berziarahlah dan berkunjunglah kepada mereka, serta ucapkanlah salam! Demi Allah yang menguasai nyawaku, tak seorang Muslim pun sampai hari qiamat yang memberi salam kepada mereka, pasti mereka akan membalasnya “

Salam Atasmu wahai Mush’ab…..

Salam atasmu sekalian, wahai para syuhada………

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Abdullah Bin Abbas

“Kyai Umat Ini”

Ibnu Abbas serupa dengan Ibnu Zubeir bahwa mereka sama-sama menemui Rasulullah dan bergaul dengannya selagi masih becil, dan Rasulullah wafat sebelum Ibnu Abbas mencapai usia dewasa. Tetapi ia seorang lain yang di waktu kecil telah mendapat kerangka kepahlawanan dan prinsip-prinsip kehidupan dari Rasuluilah saw. yang mengutamakan dan mendidiknya serta mengajarinya hikmat yang murni. Dan dengan keteguhan iman dan kekuatan akhlaq serta melimpahnya ilmunya, Ibnu Abbas mencapai kedudukan tinggi di lingkungan tokoh-tokoh sekeliling Rasul ….

Ia adalah putera Abbas bin Abdul Mutthalib bin Hasyim, paman Rasulullah saw. Digelari “habar” atau kyahi atau lengkapnya “kyahi ummat”, suatu gelar yang hanya dapat dicapainya karena otaknya yang cerdas, hatinya yang mulia dan pengetahuannya yang luas.

Dari kecilnya, Ibnu Abbbas telah mengetahui jalan hidup yang akan ditempuhnya, dan ia lebih mengetahuinya lagi ketika pada suatu hari Rasulullah menariknya ke dekatnya selagi ia masih kecil itu dan menepuk-nepuk bahunya serta mendu’akannya: –
“Ya Allah, berilah ia ilmu Agama yang mendalam dan ajarkanlah kepadanya ta’wil”.

Kemudian berturut-turut pula datangnya kesempatan dimana Rasulullah mengulang-ulang du’a tadi bagi Abdullah bin Abbas sebagai saudara sepupunya itu …, dan ketika itu ia mengertilah bahwa ia diciptakan untuk ilmu dan pengetahuan.

Sementara persiapan otaknya mendorongnya pula dengan kuat untuk menempuh jalan ini. Karena walaupun di saat Rasulullah shallallahu alaihi wasalam wafat itu, usianya belum lagi lebih dari tiga belas tahun, tetapi sedari kecilnya tak pernah satu hari pun lewat, tanpa ia menghadiri majlis Rasulullah dan menghafalkan apa yang diucapkannya….

Dan setelah kepergian Rasulullah ke Rafiqul A’la, Ibnu Abbas mempelajari sungguh-sungguh dari shahabat-shahabat Rasul yang pertama, apa-apa yang input didengar dan dipelajarinya dari Rasulullah saw. sendiri. Suatu tanda tanya (ingin mengetahui dan ingin bertanya) terpatri dalam dirinya.

Maka setiap kedengaran olehnya seseorang yang mengetahui suatn ilmu atau menghafaikan Hadits, segeralah ia menemuinya dan belajar kepadanya. Dan otaknya yang encer lagi tidak mau puas itu, mendorongnya nntuk meneliti apa yang didengarnya.

Hingga tidak saja ia menumpahkan perhatian terhadap mengumpulkan ilmu pengetahuan semata, tapi jnga untuk meneliti dan menyelidiki sumber-sumbernya.

Pernah ia menceritakan pengalamannya: — “Pernah aku bertanya kepada tigapuluh orang shahabat Rasul shallallahu alaihi wasalam mengenai satu masalah”. Dan bagaimana keinginannya yang amat besar untuk mendapatkan sesuatu ilmu, digambarkannya kepada kita sebagai berikut: –

“Tatkala Rasulullah shallallahu alaihi wasalam wafat, kakatakan kepada salah seorang pemuda Anshar: “Marilah kita bertanya kepada shahabat Rasulullah, sekarang ini mereka hampir semuanya sedang bekumpul?”

Jawab pemuda Anshar itu:
“Aneh sekali kamu ini, hai Ibnu Abbas! Apakah kamu kira orang-orang akan membutuhkanmu, padahal di kalangan mereka sebagai kan lihat banyak terdapat shahabat Rasulullah … ?” Demikianlah ia tak mau diajak, tetapi aku tetap pergi bertanya kepada shahabat-shahabat Rasulullah.

Pernah aku mendapatkan satu Hadits dari seseorang, dengan cara kudatangi rumahnya kebetulan ia sedang tidur slang. Kubentangkan kainku di muka pintunya, lalu duduk menunggu, sementara angin menerbangkan debu kepadaku, sampai akhirnya ia bangun dan keluar mendapatiku. Maka katanya: — “Hai saudara sepupu Rasulullah, apa maksud kedatanganmu? Kenapa tidak kamu suruh saja orang kepadaku agar aku datang kepadamu?” “Tidak!” ujarku, “bahkan akulah yang harus datang mengunjungi anda! Kemudian kutanyakanlah kepadanya sebuah Hadits dan aku belajar daripadanya … !”

Demikianlah pemuda kita yang agung ini bertanya, kemudian bertanya dan bertanya lagi, lalu dicarinya jawaban dengan teliti, dan dikajinya dengan seksama dan dianalisanya dengan fikiran yang berlian. Dari hari ke hari pengetahuan dan ilmu yang dimilikinya berkembang dan tumbuh, hingga dalam usianya yang muda belia telah cukup dimilikinya hikmat dari orang-orang tua, dan disadapnya ketenangan dan kebersihan pikiran mereka, sampai-sampai Amirul Mu’minin Umar bin Khatthab radhiallahu anhu menjadikannya kawan bermusyawarah pada setiap urusan penting dan menggelarkannya “pemuda tua” … !

Pada suatu hari ditanyakan orang kepada Ibnu Abbas:
“Bagaimana anda mendapatkan ilmu ini … ?”

Jawabnya: -“Dengan lidah yang gemar bertanya, dan akal yang suka berfikir… !”
Maka dengan lidahnya yang selalu bertanya dan fikirannya yang tak jemu-jemunya meneliti, serta dengan kerendahan hati dan pandainya bergaul, jadilah Ibnu Abbas sebagai “kyahi ummat ini”.

Sa’ad bin Abi Waqqash melukiskannya dengan kalimat-kalimat seperti ini :-
Tak seorang pun yang kutemui lebih cepat mengerti, lebih tajam berfikir dan lebih banyak dapat menyerap ilmu dan lebih luas sifat santunnya dari Ibnu Abbas … ! Dan sungguh, kulihat Umar memanggilnya dalam urusan-urusan pelik, padahal sekelilingnya terdapat peserta Badar dari kalangan Muhajirin dan Anshar. Maka tampillah Ibnu Abbas menyampaikan pendapatnya, dan Umar pun tak hendak melampaui apa katanya!”

Ketika membicarakannya, Ubaidillah bin ‘Utbah berkata:-
“Tidak seorang pun yang lebih tahu tentang Hadits yang diterimanya dari Rasulullah shallallahu alaihi wasalam daripada Ibnu Abbas… !

Dan tak kulihat orang yang lebih mengetahui tentang putusan Abu Bakar, Umar dan Utsman dalam pengadilan daripadanya … ! Begitu pula tak ada yang lebih mendalam pengertiannya daripadanya ….

Sungguh, ia telah menyediakan waktu untuk mengajarkan fiqih satu hari, tafsir satu hari, riwayat dan strategi perang satu hari, syair satu hari, dan tarikh serta kebudayaan bangsa Arab satu hari ….

Serta tak ada yang lebih tahu tentang syair, bahasa Arab, tafsir -Quran, ilmu hisab dan seal pembagian pusaka daripadanya … ! Dan tidak seorang alim pun yang pergi duduk ke dekatnya kecuali hormat kepadanya, serta tidak seorang pun yang bertanya, kecuali mendapatkan jawaban daripadanya… !”

Seorang Muslim penduduk Bashrah melukiskannya pula sebagai berikut: — (Ibnu Abbas pernah menjadi gubernur di sana, diangkat oleh Ali)

“Ia mengambil tiga perkara dan meninggalkan tiga perkara ….
Menarik hati pendengar apabila ia berbicara.
Memperhatikan setiap ucapan pembicara.
Memilih yang teringan apabila memutuskan perkara.
Menjauhi sifat mengambil muka.
Menjauhi orang-orang yang rendah budi.
Menjauhi setiap perbuatan dosa.

Sebagaimana kita telah paparkan bahwa Ibnu Abbas adalah orang yang menguasai dan mendalami berbagai cabang ilmu.

Maka ia pun menjadi tepatan bagi orang-orang pang mencari ilmu, berbondong-bondong orang datang dari berbagai penjuru negeri Islam untuk mengikuti pendidikan dan mendalami ilmu pengetahuan.

Di samping ingatannya yang kuat bahkan luar biasa itu, Ibnu Abbas memiliki pula kecerdasan dan kepintaran yang Istimewa.

Alasan yang dikemukakannya bagaikan cahaya matahari, menembus ke dalam kalbu menghidupkan cahaya iman ….Dan dalam percakapan atau berdialog, tidak saja ia membuat lawannya terdiam, mengerti dan menerima alasan yang dikemukakannya, tetapi juga menyebabkannya diam terpesona, karena manisnya susunan kata dan keahliannya berbicara … !

Dan bagaimana pun juga banyaknya ilmu dan tepatnya alasan tetapi diskusi atau tukar fikiran itu … ! Baginya tidak lain hanyalah sebagai suatu slat yang paring ampuh untuk mendapatkan dan mengetahui kebenaran … !

Dan memang, telah lama ia ditabuti oleh Kaum Khawarij karena logikanya yang tepat dan tajam! Pada suatu hari ia diutus oleh Imam Ali kepada sekelompok besar dari mereka. Maka terjadilah di antaranya dengan mereka percakapan yang amat mempesona, di mana Ibnu Abbas mengarahkan pembicaraan serta menyodorkan alasan dengan cara yang menakjubkan. Dari percakapan yang panjang itu, kita cukup mengutip cupIikan di bawah ini: –

Tanya Ibnu Abbas: — “Hal-hal apakah yang menyebabkan tuan-tuan menaruh dendam terhadap Ali … ?”

Ujar mereka: -“Ada tiga hal yang menyebabkan kebencian kami padanya: –

Pertama dalam Agama Allah ia bertahkim kepada manusia, padahal Allah berfirman: ‘”Tak ada hukum kecuali bagi Allah … !’)

Kedua, ia berperang, tetapi tidak menawan pihak musuh dan tidak pula mengambil barta rampasan. Seandainya pihak lawan itu orang-orang kafir, berarti harta mereka itu halal. Sebaliknya bila mereka orang-orang beriman maka haramlah darahnya … !)

Dan ketiga, waktu bertahkim, ia rela menanggalkan sifat Amirul Mu’minin dari dirinya demi mengabulkan tuntutan lawannya. Maka jika ia sudah tidak jadi amir atau kepala bagi orang-orang Mu’min lagi, berarti ia menjadi kepala bagi orang-orang kafir… !”3)

Lamunan-lamunan mereka itu dipatahkan oleh Ibnu Abbas, katanya: — “Mengenai perkataan tuan-tuan bahwa ia bertahkim kepada manusia dalam Agama Allah, maka apa salahnya … ?

Bukankah Allah telah berfirman:
“Hai orang-orang beriman! Janganlah halian membunuh binatang buruan, sewaktu halian dalam ihram! Barang siapa di antara kalian yang membunuhnya dengan sengaja, maka hendaklah ia membayar denda berupa binatang ternak yang sebanding dengan hewran yang dibunuhnya itu, yang untuk menetapkannya diputuskan oleh dua orang yang adil di antara kalian sebagai hahimnya … !” (Q.S. 5 al-hlaidah: 95)

Nah, atas nama Allah cobalah jawab: “Manakah yang lebih penting, bertahkim kepada manusia demi menjaga darah kaum Muslimin, ataukah bertahkim kepada mereka mengenai seekor kelinci yang harganya seperempat dirham … ?”

Para pemimpin Khawarij itu tertegun menghadapi logika tajam dan tuntas itu. Kemudian “kyai ummat ini” melanjutkan bantahannya: –

“Tentang ucapan tuan-tuan bahwa ia perang tetapi tidak melakukan penawanan dan merebut harta rampasan, apakah tuan-tuan menghendaki agar ia mengambil Aisyah istri Rasulullah shallallahu alaihi wasalam dan Ummul Mu’minin itu sebagai tawanan, dan pakaian berkabungnya sebagai barang rampasan … ?”

Di sini wajah orang-orang itu jadi merah padam karena main, lain menutupi muka mereka dengan tangan …,sementara Ibnu Abbas beralih kepada soal yang ketiga katanya: –

“Adapun ucapan tuan-tuan bahwa ia rela menanggalkan sifat Amirul Mu’minin dari dirinya sampai selesainya tahkim, maka dengarlah oleh tuan-tuan apa yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasalam di hari Hudaibiyah, yakni ketika ia mengimlakkan surat perjanjian yang telah tercapai antaranya dengan orang-orang Quraisy. Katanya kepada penuiis: “Tulislah: Inilah yang telah disetujui oleh Muhammad Rasulullah … “. Tiba-tiba utusan Qnraisy menyela: ‘Demi Allah, seandainya kami mengakuimu sebagai Rasulullah, tentulah kami tidak menghalangimu ke Baitullah dan tidak pula akan memerangimu … ! Maka tulislah:

Inilah yang telah disetujui oleh Muhammad bin Abdullah … !”
Kata Rasulullah kepada mereka: “Demi Allah, sesungguhnya saya ini Rasulullah walaupun kamu tak hendak mengakuinya…”

Lalu kepada penulis surat perjanjian itu diperintahkannya:
“Tulislah apa yang mereka kehendaki! Tulis: Inilah yang telah disetujui oleh Muhammad bin Abdullah … !”

Demikianlah, dengan cara yang menarik( dan menakjubkan ini, berlangsung soal jawab antara Ibnu Abbas dan golongan Khawarij, hingga belum lagi tukar fikiran itu selesai, duapuluh ribu orang di antara mereka bangkit serentak, menyatakan kepuasan mereka terhadap keterangan-keterangan Ibnu Abbas dan sekaligus memaklumkan penarikan diri mereka dari memusuhi Imam Ali… !

Ibnu Abbas tidak saja memiliki kekayaan besar berupa ilmu pengetahuan semata, tapi di samping itu ia memiliki pula kekayaan yang lebih besar lagi, yakni etika ilmu serta akhlak para ulama. Dalam kedermawanan dan sifat pemurahnya, Ia bagaikan Imam dengan,panji-panjinya. Dilimpah-ruahkannya harta bendanya kepada manusia, persis sebagaimana ia melimpah ruahkan ilmunya kepada mereka….

Orang-orang yang sesama dengannya, pernah menceritakan dirinya sebagai berikut: — “Tidak sebuah rumah pun kita temui yang lebih banyak makanan, minuman buah-buahan, begitupun ilmu pengetahuannya dari rumah Ibnu Abbas … !”

Di samping itu ia seorang yang berhati suci dan berjiwa bersih, tidak menaruh dendam atau kebencian kepada siapa juga.
Keinginannya yang tak pernah menjadi kenyang, ialah harapannya agar setiap orang, baik yang dikenalnya atau tidak, beroleh kebaikan…!

Katanya mengenai dirinya: –
“Setiap aku mengetahui suatu ayat dari kitabullah, aku berharap kiranya semua manusia mengetahui seperti apa yang kuketahui itu … ! Dan setiap aku mendengar seorang hakim di antara hakim-hakim Islam melaksanakan keadilan dan memutus sesuatu perkara dengan adil, maka aku merasa gembira dan turut mendu’akannya …, padahal tak ada hubungan perkara antaraku dengannya … ! Dan setiap aku mendengar turunnya hujan yang menimpa bumi Muslimin, aku merasa berbahagia, padahal tidak seekor pun binatang ternakku yang digembalakan di bumi tersebut…!”

Ia seorang ahli ibadah yang tekun beribadat dan rajin bertaubat …, sering bangun di tengah malam dan shaum di waktu siang, dan seolah-olah kedua matanya telah hafal akan jalan yang dilalui oleh air matanya di kedua pipinya, karena seringnya ia menangis, balk di kala ia shalat maupun sewaktu membaca alquran ….Dan ketika ia membaca ayat-ayat alquran yang memuat berita duka atau ancaman, apalagi mengenai maut dan saat dibangkitkan, maka isaknya bertambah keras dan sedu sedannya menjadi-jadi … !

Di samping semua itu, ia juga seorang yang berani, berfikiran sehat dan teguh memegang amanat … ! Dalam perselisihan yang terjadi antara Ali dan Mu’awiyah, ia mempunyai beberapa pendapat yang menunjukban tingginya kecerdasan dan banyaknya akal serta siasatnya …. Ia lebih mementingkan perdamaian dari peperangan, lebih banyak berusaha dengan jalan lemah lembut daripada kekerasan, dan menggunahan fikiran daripada paksaan…!

Tatkala Husein radhiallahu anhu bermaksud hendak pergi ke Irak untuk memerangi Ziad dan Yazid, Ibnu Abbas menasehati Husein, memegang tangannya dan berusaha sekuat daya untuk menghalanginya. Dan tatkala ia mendengar kematiannya, ia amat terpukul, dan tidak keluar-keluar rumah karena amat dukanya.

Dan di setiap pertentangan yang timbul antara Muslim dengan Muslim tak ada yang dilakukan oleh Ibnu Abbas, selain mengacungkan bendera perdamaian, beriunak lembut dan melenyapkan kesalah-pahaman

Benar ia ikut tejun dalam peperangan di pihak Imam Ali terhadap Mu’awiyah, tetapi hal itu dilakukannya, tiada lain hanyalah sebagai tamparan keras yang wajib dilakukan terhadap penggerak perpecahan yang mengancam keutuhan Agama dan kesatuan ummat… !

Demikianlah kehidupan Ibnu Abbas, dipenuhi dunianya dengan ilmu dan hikmat, dan disebarkan di antara ummat buah nasehat dan ketaqwaannya – · · · Dan pada usianya yang ketujuhpuluh satu tahun, ia terpanggil untuk menemui Tuhannya Yang Maha Agung · – · · Maka kota Thaif pun menyaksikan perarakan besar, di mana seorang Mu’min diiringkan menuju surganya.

Dan tatkala tubuh kasamya mendapatkan tempat yang aman dalam kuburnya, angkasa bagai berguncang disebabkan gema janji Allah yang haq:

“Wahai jiwa yang aman tenteram! Kembalilah kamu kepada Tuhanmu dalam keadaan ridla dan diridlai. Maka masuklah ke dalam lingkungan hamba-Ku. Dan masuklah ke dalam surgaKu

Resiko Investasi

Sudah menjadi pertimbangan sejak pertama kali akan melakukan investasi bahwa yang harus dipikirkan tidak hanya profit yang akan didapat, tetapi juga resiko-resiko yang harus dihadapi dalam menginvestasikan dana yang kita punya, seperti terjadinya inflasi. Saat ini harga saham-saham jatuh karena dampak dari krisis di Amerika yang otomatis juga berpengaruh ke nilai investasi reksadana yang ku-invest…hiks..hiks.

Ngga kebayang, nilai investasi jatuh menjadi setengahnya…..memang sih investasi reksadana ini belum genap 1 tahun. Tapi melihat perkembangan pasar modal yang masih belum pasti, jadi bingung apakah mao dialihkan ke produk lain ataukah tetap di jalan ini. Huuuffff.

Semoga krisis ini tidak seperti tahun 1998 dulu dan semoga cepat berlalu….amien.