Aku rindu kalimat itu

“Gus, bangun..anterin Ibu kepasar…”, itulah suara lembut dari ibuku yang membuat aku terjaga di setiap malam. Salah satu rutinitasku di setiap malam ketika bapak kerja shift malam. Tepat pukul tiga dini hari ibuku sudah terjaga dari tidurnya… dibangunkan oleh suara alarm dari jam wekernya membuyarkan bunga tidur yang sedang menghampirinya, bersiap-siap dengan membawa rinjing untuk pergi kepasar, berbelanja sayur-mayur untuk dijual kembali di rumah. Ketika Ibu-Ibu yang lain masih terlelap di dua pertiga malam dengan diselimuti mimpi-mimpi indah, ibuku sudah memulai aktifitasnya, demi aku…ya..aku…anakmu yang selalu menyusahkanmu, merepotkanmu, membuatmu kesal, membuatmu marah .Demi anak-anakmu, kau berjuang mengejar rejeki hanya untuk membiayai sekolah anak-anakmu agar bisa mengenyam pendidikan yang lebih baik. Dengan terjaganya aku, maka aku bisa lebih mendekatkan diri kepada-Nya. “Ya Rabb, lindungi ibuku dari segala hal-hal buruk yang akan mendekatinya, lapangkanlah rejekinya” salah satu petikan do’a yang kupanjatkan kepadaMu. Tiga tahun sudah berlalu, sekarang tugas itu sudah diturunkan ke adikku, aku jadi rindu suasana itu… aku rindu kalimat itu ….aku rindu…rindu sekali. Aku jadi teringat tentang salah satu lirik petikan lagu yang dinyanyikan oleh Amanda dan Opick yang berjudul Satu Rindu. 

Hujan teringatkan aku
Tentang satu rindu
Dimasa yang lalu
Saat mimpi masih indah bersamamuTerbayang satu wajah
Penuh cinta penuh kasih
Terbayang satu wajah
Penuh dengan kehangatan
Kau ibu Oh ibuAllah izinkanlah aku
Bahagiakan dia
Meski dia telah jauh
Biarkanlah aku
Berarti untuk dirinya
oh ibu oh ibu kau ibu
Terbayang satu wajah
Penuh cinta penuh kasih
Terbayang satu wajah
Penuh dengan kehangatan
Kau ibu
Terbayang satu wajah
Penuh cinta penuh kasih
Terbayang satu wajah
Penuh dengan kehangatan
Kau ibu oh ibu kau ibu
oh ibu oh ibu

Hujan teringatkan aku
Tentang satu rindu
Dimasa yang lalu
Saat mimpi masih indah bersamamu
Kau ibu kau ibu kau ibu 

Ibu… petikan lirik tersebut kupersembahkan untukmu. Untuk kegigihanmu, untuk ketulusanmu, untuk segala pengorbananmu sehingga aku bisa seperti ini.  

Jum’at, 05 Oktober 2007 23:21:00

  1. speechless, cuma bisa ngasih senyum bang🙂

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: